Masuk Surga Bukan Karena Agama
Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Cenderung dan hampir semua penganut agama berpikir bahwa masuk Surga adalah karena kita ber_agama A, B, C, D, E dan F. Padahal semua agama hanyalah alternatif jalan dan konsep keselamatan.
Secara sosiologis dan substantif, umat manusia sejak prasejarah sudah beragama. Manusia prasejarah pun sudah berupaya mencari jalan keselamatan dengan mengonektivitas realitas dan spiritualitas.
Ketika Allah, Tuhan yang maha love mengutus para nabi, mereka bertugas menyampaikan pesan. Pesan pesan para nabi itu sangat universal dan esensi yakni perbaikan akhlak. Akhlak adalah esensi, substansi dan evidensi ketuhanan.
Beragama apa pun, bila akhlak buruk, tidak ada kebaikan, maka Surga pun tak mungkin didapatkan. Sebaliknya, agama apa pun, bila pesan pesan Allah, Tuhan yang maha love dijalankan, maka keselamatan dan Surga adalah bagiannya.
Agama Islam adalah diantara agama yang sangat terbuka dan moderat. Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 62, surat Al Maidah ayat 69, menjelaskan substansi keberagamaan. Siapa yang berakhlak baik, terkoneksi dengan Tuhannya, akan selamat.
Al Baqarah ayat 256 versi KH Buya Hamka sebagai peringatan bahwa Islam tidak memperbolehkan pemaksaan dalam memeluk agama. Hargai jalan keselamatan versi yang lain.
Al-Kafirun ayat 6 menjelaskan “Untuk mu agama mu dan untuk ku agama ku”. Ayat ini seolah menjelaskan agama mu dan agama ku adalah jalan keselamatan yang dipilih. Setiap orang merdeka memilih jalan keselamatan.
Ali Imran ayat 19 menjelaskan “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
Bila kita terjemahkan esensi dan pesan substantifnya adalah “Sesungguhnya agama disisi Allah adalah agama yang berserah diri”. Islam, dalam bahasa Arab, berarti “penyerahan diri” atau “berserah diri” kepada_Nya.
Islam dalam pengertian lainnya adalah berakar kata dari “aslama”, “yuslimu”, “islaaman” yang berarti tunduk, patuh, dan selamat. Islam berarti kepasrahan atau ketundukan secara total kepada Allah yang rahman rahim.
Dalam ayat kauniyah dijelaskan tidak ada satu pengadilan pun yang memvonis seseorang karena salah memilih agama A, B atau C. Bahkan faktanya hampir semua orang beragama tidak memilih, melainkan karena warisan.
Seseorang divonis karena akhlaknya, bukan karena agamanya. Apalagi Allah, Tuhan yang maha love, sesuai sejumlah ayat ayat dalam Al Qur’an di atas, tentu tidak akan memvonis seseorang karena agamanya, kecuali karena akhlaknya.
Menarik apa yang disampaikan Kang Dedi Mulyadi (KDM), Ia menyatakan bahwa kita tidak boleh mengadili hak seseorang, apalagi hal esensi seperti keberagamaan. Hargai hak privat seseorang.
KDM mengatakan hanya Allah, Tuhan yang maha love yang berhak mengadili keberagamaan seseorang, benar atau salahnya. Hal utama tetap pada akhlak yang meletakan cinta pada Allah, manusia dan semesata.
Allah itu rahman rahim, rahman dan rahim melekat kepada_Nya. Rahman rahim adalah esensi dari semua agama. Rahman rahim akan memancarkan akhlak mulia, duplikatif dari Tuhannya.
Semua umat manusia, apa pun agamanya, bila meletakan rahman rahim dalam keseharian, akan selamat. Allah utus semua nabi dan turunkan kitab suci, membawa pesan universalis, bismilahirrohmanirrohim.
Berlomba lombalah dalam akhlak ter_baik, bukan berlomba lomba dalam ceramah dan mengatakan agama ku terbaik. Manusia lebih butuh akhlak mu, bukan hanya cermah dan apa agama mu.
Post Views: 25
capacitaciontotalcdmx.com
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru