Barangkali yang Dibenci Bukan Argentina, Melainkan Kebiasaan Mereka Terus Menang – capacitaciontotalcdmx
6 mins read

Barangkali yang Dibenci Bukan Argentina, Melainkan Kebiasaan Mereka Terus Menang – capacitaciontotalcdmx

Akhlil Fikri Idham | Wartawan, penikmat kopi hitam, dan penggemar berat Lionel Messi sejak rambutnya masih gondrong.


Hampir saja saya kelewatan pertandingan Argentina versus Swiss. Untung ada Leo. Tepat pukul 07.00 WIB, teleponnya masuk. Untung pula malam nya saya tidak mengaktifkan mode senyap. Kalau iya, mungkin saya baru bangun ketika media sosial sudah dipenuhi dua jenis manusia, yang mengunggah selebrasi dan yang sibuk mencari alasan kenapa Argentina menang.

Minggu pagi, 12 Juli 2026, saya kembali mengenakan jersey home Argentina pemberian Widi Satoto. Jersey itu rupanya mulai punya reputasi. Ini kali ketiga saya memakainya saat Argentina bertanding.

Entah kebetulan atau memang ada sedikit aroma takhayul ala pencinta sepak bola, yang jelas jersey itu selalu saya pakai dengan harapan yang sama, silahkan bikin jantungan, tapi Argentina harus menang.

Tempat nobarnya masih sama, kedai kopi, kalau malam di Vico, kalau pagi di Lolipop, kali ini saya nonton di Lolipop. Tempat yang kalau tidak ada sepak bola biasanya dipenuhi diskusi harga sembako, politik kampung, sampai gosip siapa yang mau nyaleg lagi.

Pagi itu satu meja saya diisi empat orang. Saya, Pak Patri, Leo, dan Bung Husni. Sementara meja lainnya juga penuh dan rame.

Saya, Pak Patri, dan Leo adalah pengikut setia Albiceleste. Bung Husni? Dia pendukung Prancis. Tapi lucunya, pagi itu dia justru berharap Argentina menang. “Tenang Argentina pasti menang” kira-kira begitu kata Bung Husni.

Saya curiga, jangan-jangan bung Husni ini, pendukung Argentina yang sedang menyamar jadi Fans Prancis.

Tapi saya ga mau berburuk sangka. Saya mengangguk. Musuh yang baik memang musuh yang ingin bertemu di puncak, bukan musuh yang berharap lawannya tersandung duluan.

Yang lucu dari setiap pertandingan Argentina bukan cuma permainannya, tetapi juga penontonnya.

Setiap kali Messi dan kawan-kawan bertanding, selalu ada kelompok orang yang sudah siap bersorak… bukan karena Argentina mencetak gol, melainkan karena mereka berharap Argentina angkat koper, pulang kampung.

Lucunya lagi, sebagian besar di antara mereka bukan pendukung Swiss.

Mereka adalah para pengungsi sepak bola. Tim kesayangannya sudah lebih dulu angkat koper, tetapi semangat mendukung siapa pun yang melawan Argentina justru makin membara.

Hari ini dukung Swiss.

Besok dukung Prancis.

Lusa dukung Inggris.

Lalu dukung Spanyol.

Tidak apa-apa. Sepak bola memang memberi ruang bagi semua orang untuk berharap. Walaupun kadang harapannya lebih banyak daripada peluangnya.

Belakangan juga ramai lagi kalimat yang sebenarnya sudah seperti kaset rusak.

“Messi anak FIFA.”

“Argentina dibantu FIFA.”

Kalimat itu muncul lagi. Diulang lagi. Diputar lagi.

Saya rasa pertandingan melawan Swiss sudah cukup menjadi jawaban.

Kalau masih ada yang ingin mengucapkannya, ya silakan saja. Toh setiap orang bebas memiliki pendapat, meski kadang pendapat itu lebih rajin muncul daripada bukti yang mendukungnya.

Kadang yang berbicara bukan logika.

Melainkan rasa kecewa karena tim favoritnya sudah lebih dulu membeli tiket pulang.

Menjadi pendukung Argentina juga bukan berarti hidup tenang.

Justru sebaliknya.

Kalau ada tim yang hobi membuat suporternya latihan mengatur napas, ya Argentina.

Sudah unggul, belum tentu aman.

Sudah masuk menit 90, belum tentu selesai.

Sudah tambahan waktu, masih bisa bikin panik.

Sudah masuk babak tambahan, jantung makin bekerja lembur.

Messi dan kawan-kawan seperti sengaja menolak konsep “menang nyaman”. Mereka lebih suka membuat pendukungnya nyaris menyerah dulu sebelum akhirnya tersenyum.

Yang paling kasihan sebenarnya para petaruh.

Argentina menang.

Taruhannya kalah.

Karena mereka pasang over, yang keluar under.

Pasang handicap besar, menangnya tipis.

Pasang skor tepat, golnya datang di menit yang tidak diundang.

Pokoknya, Argentina itu tim yang sering menang, tetapi tidak selalu membuat dompet suporternya ikut menang.

Ada satu kebiasaan lain yang saya perhatikan setiap kali nobar.

Di beberapa lokasi tempat saya menonton pertandingan Argentina, rasanya hampir 70 persen orang berharap Messi dan kawan-kawan segera angkat koper.

Saya yakin sebagian besar bukan pendukung lawan.

Mereka hanyalah kumpulan pendukung yang tim favorit-nya sudah lebih dulu selesai bertugas di Piala Dunia.

Barangkali begitulah sepak bola bekerja.

Ketika tim sendiri sudah tersingkir, hiburan berikutnya adalah berharap tim yang paling sering menang ikut tersingkir.

Masalahnya, Argentina ini punya kebiasaan buruk.

Mereka sering menunda pesta para pembencinya.

Sudah disiapkan status WhatsApp.

Sudah disiapkan caption Facebook.

Sudah disiapkan meme.

Eh, ternyata Messi dan kawan-kawan masih lolos lagi. Argentina vs Swiss skor akhir 3-1.

Buat kawan-kawan pendukung Argentina, sabar saja.

Kita memang satu nasib.

Sudah bertahun-tahun dibuat jantungan oleh tim yang sama.

Sementara buat yang berharap Argentina segera pulang kampung, saya cuma punya satu saran sederhana.

Kalau mau merayakan kekalahan Argentina, jangan buru-buru.

Biasakan nonton sampai peluit panjang benar-benar berbunyi.

Sebab bersama Messi, pertandingan sering kali belum selesai ketika orang-orang sudah mulai mengejek.

Dan itu, entah kenapa, selalu menjadi bagian paling lucu dari sepak bola.


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan curahan penulis yang bisa berupa kisah nyata, pengalaman pribadi, maupun unsur fiksi. Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Kirim Tulisan:
Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? capacitaciontotalcdmx membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! WhatsApp: 0811-7776-644 Email: kutipan.co@gmail.com

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *