Penari Muda Maiza Sukma Turut Lestarikan Tari Pagar Pengantin Palembang
3 mins read

Penari Muda Maiza Sukma Turut Lestarikan Tari Pagar Pengantin Palembang


Pewarta : Heri Kusnadi

OGAN ILIR – Generasi muda terus menunjukkan perannya dalam menjaga dan melestarikan seni budaya daerah. Salah satunya adalah Maiza Sukma, penari muda berbakat yang turut ambil bagian dalam penampilan Tari Pagar Pengantin, tarian adat khas Palembang yang sarat nilai filosofis dan budaya.

Maiza Sukma lahir di Tanjung Harapan, 16 April 2011. Ia merupakan putri dari pasangan Bapak Heri Kusnadi dan Ibu Rosita. Sejak usia dini, Maiza telah menunjukkan ketertarikan pada seni tari tradisional, khususnya tarian adat Sumatera Selatan.

Dalam penampilannya membawakan Tari Pagar Pengantin, Maiza mampu mengekspresikan gerakan yang lembut, anggun, dan penuh penghayatan. Tarian tersebut melambangkan perlindungan, kehormatan, serta doa bagi kedua mempelai dalam prosesi adat pernikahan Palembang.

Keterlibatan Maiza dalam seni tari tradisional tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga mencerminkan semangat generasi muda dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal luas. Di tengah arus modernisasi, kehadiran penari muda seperti Maiza Sukma menjadi harapan bagi keberlanjutan seni budaya lokal.

Dukungan orang tua serta lingkungan sekitar menjadi faktor penting dalam perkembangan bakat Maiza. Diharapkan, ke depan Maiza Sukma dapat terus mengembangkan kemampuannya dan menjadi inspirasi bagi anak-anak seusianya untuk mencintai dan melestarikan budaya daerah.

Tari Pagar Pengantin merupakan salah satu tarian tradisional khas masyarakat Palembang, Sumatera Selatan, yang biasanya ditampilkan dalam rangkaian upacara adat pernikahan. Tarian ini memiliki nilai sakral dan sarat makna filosofis yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga.

Tari Pagar Pengantin berasal dari tradisi adat Palembang yang berkembang di lingkungan Kesultanan Palembang Darussalam. Tarian ini berfungsi sebagai tarian penyambutan sekaligus simbol penghormatan kepada kedua mempelai, khususnya pengantin perempuan, yang akan memasuki fase baru dalam kehidupannya.

Secara filosofis, Tari Pagar Pengantin melambangkan : Perlindungan dan penjagaan terhadap kehormatan pengantin, terutama pengantin perempuan. Batas adat dan moral yang harus dijaga dalam kehidupan berumah tangga. Doa dan harapan agar rumah tangga pengantin senantiasa harmonis, aman, dan sejahtera.

Kata “pagar” dimaknai sebagai pelindung, sedangkan “pengantin” melambangkan pasangan suami istri yang baru membangun keluarga.

Tari Pagar Pengantin biasanya dibawakan oleh penari perempuan dengan jumlah ganjil atau genap, tergantung kebutuhan acara. Gerakannya lembut, anggun, dan teratur, mencerminkan sikap sopan santun, kehalusan budi, serta keteguhan perempuan Palembang dalam menjaga adat dan martabat keluarga.

Para penari mengenakan busana adat Palembang, seperti: Baju kurung atau Aesan dengan dominasi warna emas dan merah. Songket Palembang.

Aksesoris khas seperti mahkota, pending, dan perhiasan emas. Dalam beberapa pertunjukan, penari juga menggunakan selendang sebagai simbol kelembutan dan keanggunan.

Tarian ini diiringi oleh musik tradisional Palembang, seperti gendang, gong, dan alat musik Melayu, dengan irama yang tenang dan khidmat untuk menyesuaikan suasana sakral pernikahan adat.

Saat ini, Tari Pagar Pengantin tidak hanya ditampilkan dalam upacara adat pernikahan, tetapi juga sering dipentaskan dalam acara budaya, penyambutan tamu kehormatan, dan festival seni, sebagai upaya pelestarian budaya daerah Sumatera Selatan

Post Views: 112


News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *