Kopi Setengah Gelas dan Nasihat Hidup dari Dokter Perokok Berat di Tengah Gerimis Dabo – capacitaciontotalcdmx
Fikri | Jurnalis Kedai Kopi yang Perokok Berat Sok Filosofis
Pagi itu Sabtu 9 Mei 2026, jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. Bagi sebagian orang mungkin itu sudah menjelang siang. Tapi bagi saya, yang profesinya menulis sambil menunda-nunda kenyataan hidup, itu masih termasuk pagi. Bahkan sangat pagi.
Gerimis turun pelan di Dabo Singkep. Tidak deras memang, tapi cukup untuk membuat baju basah dan rambut terasa seperti habis disemprot sang tukang pangkas rambut. Saya dan seorang rekan wartawan tetap nekat menuju kedai kopi langganan kami: KKM.
Kalau dipikir-pikir, kedai kopi di negeri ini memang kadang lebih berfungsi daripada ruang konseling. Orang patah hati ke coffee shop. Orang bingung hidup ke coffee shop. Orang tak punya solusi juga ke coffee shop, lalu memesan kopi sambil berharap hidup mendadak terasa seperti film indie.
Pesanan saya sederhana, kopi susu pancung setengah gelas dan air putih hangat. Pesanan setengah gelas ini saya ikut-ikutan gaya pesanan teman saya, dia anak Tanjungpinang, ga bawel, asik diajak ngopi, dia sarjana yang sampai detik ini masing menganggur (sabar bro…. saya juga ngangur, sama kita).
Iya benar, kamu ga salah baca dan saya ga salah tulis.
SETENGAH GELAS !!!
Karena usia dan kondisi dompet kadang mengajarkan manusia bahwa menikmati hidup itu tidak harus penuh. Kadang cukup separuh. Separuh kopi, separuh harapan, separuh lagi cicilan yang belum lunas.
Saya duduk di meja biasa, dengan teman yang biasa cuma kurang anak Tanjungpinang itu aja. Yang tak biasa adalah meja biasanya saya duduk, ada yang mengganggu pikiran saya. Di atas meja terdapat tiga nomor meja sekaligus: 7, 17, dan 6.
Saya tahu ini terdengar tidak penting. Tapi begitulah cara kerja pikiran manusia yang terlalu sering minum kopi dan terlalu lama hidup di tengah kebisingan dunia. Hal-hal kecil bisa berubah jadi bahan renungan panjang.
Saya foto nomor itu lalu saya unggah ke story WhatsApp dengan tulisan:
“Merasa cukup itu penting, merasa lapang itu harus, dunia terlalu bising jika ditakar dari hal yang tidak kita punya.”
Kalimat yang terdengar bijak itu sebenarnya lahir dari kombinasi kopi panas, gerimis, dan saldo rekening yang sedang menjaga jarak dengan kata “aman”.
Tak lama, chat WhatsApp mulai berdatangan.
Ada yang fokus ke nomor mejanya.
“Nomor cantik bang.”
Orang Indonesia memang unik. Mau sedalam apa pun pesan hidup yang kita tulis, yang diperhatikan tetap angka. Kalau perlu ditafsirkan jadi nomor togel sekalian.
Lalu masuklah chat dari seseorang yang saya kenal cukup lama, dokter Bukit.
Beliau tidak banyak basa-basi. Hanya mengirim angka: 7176
Singkat. Padat. Tidak ada emoji. Tidak ada stiker. Tidak ada ceramah kesehatan.
Saya membalas dengan foto teman wartawan yang duduk di depan saya. Tanpa caption. Karena laki-laki seusia kami kadang sudah terlalu lelah untuk menjelaskan sesuatu.
Dokter Bukit membalas lagi. Kali ini foto roti dan teh madu.
“Sarapan sehat roti dan teh madu.”
Saya tersenyum kecil.
Lalu saya balas dengan foto kopi susu pancung dan air putih hangat sambil menulis:
“Apalah daya saya yang cuma bisa sarapan ini.”
Dan dari situlah obrolan absurd tapi hangat itu dimulai.
Dokter Bukit lalu menjelaskan bahwa kopi ternyata baik untuk vasonstriktor pembuluh darah dan kontraksi jantung. Takaran ideal dua sampai tiga gelas sehari dengan gula terbatas.
Saya membaca chat itu sambil menyeruput kopi yang gulanya mungkin cukup untuk membuat semut naik gula darah.
Tapi begitulah hidup. Kadang kita tahu teori sehat. Kita paham pola hidup baik. Kita hafal anjuran dokter. Tapi tetap makan mie instan tengah malam sambil bilang, “Besok mulai hidup sehat,” Eh.. besok malamnya lagi masih setia dengan mie instan.
Dokter Bukit ini orangnya ramah. Dulu saya mengenalnya saat beliau menjabat Direktur RSUD Dabo. Sekarang beliau menjadi Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Lingga.
Dan menurut saya, beliau juga salah satu perokok paling loyal yang pernah saya temui.
Beliau kembali mengirim pesan:
“Life style for your healthy.”
Untung bahasa Inggrisnya masih level yang bisa diterjemahkan otak saya tanpa bantuan Google Translate.
Saya lalu membalas satu kata dengan huruf kapital: “ROKOK.”
Nah, dari sinilah percakapan mulai terasa seperti seminar kesehatan yang dipandu para pelaku pelanggaran itu sendiri.
Dokter Bukit tertawa lewat chat.
Katanya, itulah yang membuat manusia tidak komitmen pada hidup sehat.
Lalu beliau menjelaskan tentang nikotin, candu, plak paru-paru, dan bahaya rokok lainnya. Penjelasan yang ironis keluar dari seorang perokok aktif.
Tapi justru di situlah menariknya manusia.
Kita ini makhluk paling lucu di muka bumi.
Tahu rokok bahaya, tetap dihisap.
Tahu begadang merusak badan, tetap scroll TikTok sampai subuh.
Barangkali manusia memang tidak selalu hidup berdasarkan logika. Kadang kita hidup berdasarkan apa yang membuat kepala sedikit lebih tenang.
Lalu dokter Bukit mengirim kalimat yang membuat saya tersenyum cukup lama dan dalam hati membenarkan, dan itu bagi saya benar, saya pusing dan ga bisa mikir nulis untuk menyusun kata-kata kalau nggak sambil merokok.
“Setiap satu tarikan rokok menimbulkan 10 bahkan lebih konsep pemikiran dan ide-ide yang akan kita lakukan.”
Dokter Bukit kembali melanjutkan.
“Rokok sama dengan pola makan, kalau berlebihan itu yang menjadi tantangan. Baik kesehatan maupun keuangan.”
Nah, ini kalimat paling jujur hari itu.
Karena sebenarnya yang paling sering membuat manusia stres bukan cuma penyakit. Tapi harga kebutuhan pokok, tagihan listrik, cicilan pinjol (minjamnya mudah balikinnya susah).
Kesehatan mental orang Indonesia kadang tidak rusak karena hidupnya buruk. Tapi karena terlalu sering membuka aplikasi Pinjol, Mobile banking, lalu situs Judol.
Beliau lalu menutup percakapan dengan nasihat tentang menjaga stamina tubuh dan pengendalian pikiran agar tidak stres dan cemas.
“Kata kunci jaga stamina tubuh agar lebih kuat dan pengendalian pikiran untuk mengurangi rasa stres dan kecemasan,”
Saya cuma membalas:
“Siap pak dokter.”
Jawaban standar warga negara yang sebenarnya masih tetap akan ngopi, begadang, dan mungkin lupa minum air putih besok pagi.
Sebelum percakapan selesai, dokter Bukit mengirim quote penutup:
“Terbanglah rendah tetapi terus mencapai ketinggian. Berbuatlah hal-hal kecil tetapi bermanfaat untuk kebaikan yang besar.”
Saya membaca itu sambil melihat sisa kopi setengah gelas di meja yang sudah kandas.
Di luar, gerimis masih turun pelan.
Dan entah kenapa pagi itu saya merasa hidup tidak perlu terlalu mewah untuk terasa hangat.
Kadang hidup cuma butuh kopi pancung, percakapan receh, dan seseorang yang masih sempat mengingatkan kita untuk menjaga kesehatan, meski sambil memegang rokok.
Pada akhirnya, hidup barangkali memang tidak pernah benar-benar meminta manusia menjadi sempurna. Kita cuma diminta tahu batas. Tahu kapan harus bekerja, kapan harus istirahat, kapan menikmati kopi, dan kapan berhenti menghisap sesuatu yang perlahan menghisap balik kesehatan kita.
Percakapan sederhana di tengah gerimis itu terasa logis justru karena tidak sok bijak. Seorang dokter tetap merokok, seorang wartawan tetap ngopi dan begadang, dan keduanya sama-sama sadar bahwa hidup bukan soal menjadi paling sehat atau paling benar, tapi tentang bagaimana menjaga diri agar tetap waras menjalani hari-hari yang makin bising.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan curhatan penulis bisa fiksi, bisa jadi kisah nyata. Kirim Tulisan: Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? capacitaciontotalcdmx membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik!. Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-7776-644 / email: kutipan.co@gmail.com
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.